Lokomotif Spurs
SEORANG fan Tottenham Hotspur menyambut kedatangan Rafael Van der Vaart (VDV) ke White Hart Lane musim ini dengan pesimistis dan sinis. "Pasanglah tato di dahimu bertuliskan 'I hate Arsenal and Sol Campbell' pasti Anda akan mendapat simpati dari kami," tulis fan itu di situs Come On Spurs.
Diperkenalkan di White Hart Lane pada 11 September pukul 17.00 WIB waktu setempat, VDV tentu saja tak menuruti saran konyol tersebut. Ia cukup memberikan senyuman simpatik, dan lambaian hangat. Ribuan fan Spurs yang memenuhi stadion pun langsung tersihir.
Dan mereka semakin jatuh cinta ketika VDV tampil begitu inspiratif dalam debutnya 10 hari kemudian saat Spurs bermain imbang melawan West Brom. Setelah itu grafiknya terus menanjak. Prediksi ia bakal jadi lokomotif yang mendorong prestasi Spurs menjadi kenyataan.
Tengok saja, ia jadi satu-satunya pemain Spurs sepanjang sejarah yang pernah mencetak enam gol beruntun di enam pertandingan kandang. Terakhir itu dilakukan saat Spurs imbang dengan Sunderland 1-1 tengah pekan lalu.
Tak heran, mantan gelandang Real Madrid ini terpilih sebagai pemain terbaik bulan Oktober di pentas Premier League. Ia dinilai sebagai pemain anyar yang paling cepat beradaptasi, dan paling memberikan pengaruh positif pada tim.
Pada Oktober, atau hanya dua bulan setelah resmi bergabung, VDV memang langsung tancap gas. Ia mencetak tiga gol, dan sejumlah assist hingga diganjar anugerah pemain terbaik.
VDV memulai bulan Oktober dengan memborong dua gol kala menumbangkan Aston Villa 2-1 di White Hart Lane, Ia kemudian melepaskan tengan chip menawan yang menjadi assist untuk Roman Pavlyuchenko menjebol gawang Fulham. Dilanjutkan dengan eksekusi cantik atas umpan Peter Crouch yang menjadi gol penyama 1-1 melawan Everton.
Ia mengikuti jejak lima pemain Belanda lain yang pernah mendapat anugerah serupa: Dennis Bergkamp, Ruud van Nistelrooy, Arjen Robben, dan Robin van Persie
Rafael Ferdinand van der Vaart, demikian nama lengkapnya. Lahir di Heemskerk, kota kecil di sebelah utara Belanda pada 1983 dari ayah Belanda, dan ibu Spanyol. Saat kecil dirinya fan Manchester United. Beranjak sepuluh tahun, seperti banyak sebayanya, ia bergabung dengan
Ajax Youth Academy.
Di sekolah sepakbola yang pernah menelorkan pesepakbola elite seperti Johan Cruyff, Patrick Kluivert, dan Marco van Basten, VDV langsung memperlihatkan talenta. Tak heran, usia 17 tahun ia sudah masuk skuad Ajax senior. Sejak itu ia terus melaju, dan satu-satunya penghalang hanyalah cedera permanen pada lututnya.
VDV dikontrak Spurs pada hari terakhir transfers window dari Real Madrid. Tepatnya, hanya dua jam sebelum tenggat Bayarannya sekitar delapan juta pound, yang menjadi rekor tersendiri untuk Spurs. Namun, itu pula yang sempat jadi perdebatan. Ada yang menilai harganya terlalu mahal mengingat di Madrid sendiri ia lebih banyak dibangku-cadangkan.
Tapi VDV dengan cepat membungkam para pengkritiknya dengan cara sungguh elegan. Ia menunjukkan daya adaptasi tinggi dengan langsung nyetel pada skema yang diperagakan pelatih Harry Redknapp. Sebuah prestrasi tersendiri mengingat pemain sekaliber Dennis Bergkamp dan Thierry Henry pun sebelumnya butuh adaptasi beberapa partai sebelum on fire.
Hadirnya VDV di lini tengah, ditopang juga dengan aksi menawan Gareth Bale di sisi kiri, ditambah dengan membaiknya performa Jermain Defoe jika sembuh dari cederanya kelak, tak pelak membuat harapan fan Spurs melambung tinggi.
Mereka terkenang kembali pada kejayaan Spurs di masa lalu. Nama-nama besar seperti
Chris Waddle, Gary Lineker, Paul Gascoigne, Glenn Hoddle, Jurgen Klinsmann, dan David Ginola memang pernah membuat bendera Spurs berkibar di Premier League.
Kini, dengan hadirnya VDV ditunjang para pemain lain yang punya kualitas hampir setara, dan di bawah sihir sang Harry 'Houdini', para suporter Spurs sah-sah saja jika mengimpikan tim pujaan mereka merebut juara Premier League, atau kenapa tidak berkhayal lebih tinggi lagi: Piala Champions. Ya, kenapa tidak? (Tribunnews/den)
Kamis, 03 Maret 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar