Kamis, 03 Maret 2011

Senjata Pamungkas
AKHIRNYA Chelsea mendapatkan Fernando Torres. Setelah merayu, melobi, dan coba meyakinkan selama setahun lebih, Roman Abramovich sukses mendatangkan sang bintang ke London Barat. Tugas berat kini disandarkan pada Carlo Ancelotti, Mampukah ia menjadikan 'El Nino' sebagai senjata pamungkas untuk mempertahankan gelar juara Premier League?
    Masalah utama untuk Ancelotti adalah, dimana ia akan menempatkan Torres yang nota bene penyerang yang punya tipikal sama dengan Didier Drogba?
    Keduanya murni centre-forwards, pemain yang hanya bisa beroperasi sebagai ujung tombak di lini penyerangan. Sama-sama jadi goal getter dengan tingkat egoisme tinggi.
    Bahkan di timnas Spanyol, keberadaan Torres memaksa David Villa beroperasi agak ke kiri di area kotak penalti. Ini untuk membuka peluang Torres menjelajah secara maksimal di area operasinya.
    Tak hanya itu, Ancelotti juga harus menemukan formula agar Torres bisa bersenyawa  dengan para gelandang ofensif The Blues yang rata-rata bertipe haus gol.
    Bertaburnya pemain bintang memang ibarat pisau bermata dua. Jika gagal memadukannya, maka keruntuhan tim akan jadi jawaban. Sebaliknya, jika sukses meramu jadi tim yang utuh, kejayaan akan jadi jaminan.
    Untunglah, Ancelotti termasuk kategori pelatih yang punya talenta unik untuk memadukan para pemain bintang, dan juga diberkati improvisasi tinggi.
    Ketika pertama datang ke Chelsea pada 2009, ia langsung menerapkan jurus andalan selama di AC Milan, formasi berlian 4-4-2. Awalnya, formasi ini berjalan sukses.
    Di pertengahan musim, terjadilah krisis berupa badai cedera, yang menggerogoti kekuatan di lini tengah dan lini belakang. Keseimbangan tim pun mulai goyah.
    Tak hilang akal, Don Carlo mengubah formasi jadi 4-3-3. Terobosan strategi yang membuat The Blues kembali menunjukkan kejayaan, dan meraih gelar ganda, Premier League, serta FA Cup.
    Musim ini, badai cedera kembali melanda, ditambah dengan belum adanya kesamaan kimiawi antarpemain. Menjadikan Chelsea melorot ke peringkat empat, dan terpaut sepuluh poin dari Manchester United pada pertengahan pekan lalu.
    Kedatangan Torres memberikan harapan baru untuk kembali pada formasi berlian -- setelah sebelumnya praktis Chelsea hanya memasang Drogba sebagai lone ranger, dan Nicolas Anelka lebih beroperasi sebagai penyerang sayap.
    Tak seperti Anelka, Torres mustahil jika hanya dijaga oleh satu bek lawan. Butuh minimal dua pemain untuk mematikan striker maut ini. Demikian juga Drogba, yang pergerakan dan kekuatannya kerap membuat tim lawan kalang-kabut.  Jika keduanya dipasang bersamaan, maka otomatis perhatian para wingback tim lawan akan tersedot.
    Dan celah inilah yang memberi peluang para gelandang ofensif Chelsea untuk menebar tusukan dan tendangan mautnya. Baik melalui Frank Lampard, Florent Malouda, maupun lewat Michael Essien.
    Di belakang, atau yang jadi buntut dari formasi berlian, Jon Obi Mikel bisa menjadi pemain yang diandalkan. Ia punya kekuatan, dan keberanian untuk membantu lini pertahanan.
Juga punya kecepatan, dan umpan terobosan akurat untuk mengalirkan arus serangan balik.
    Sepertinya, ini bakal menjadi skenario yang sangat menjanjikan. Namun, semua itu hanya skenario di atas kertas. Faktanya, ada banyak faktor lain yang juga harus diperhitungkan.
    Faktor kimiawi antarpemain misalnya. Chelsea punya pengalaman pahit saat mendatangkan Andriy Shevchenko beberapa tahun lalu.
    Punya talenta luar biasa, penyerang Rusia ini mendadak gagap di Stamford Bridge. Semua sepakat, Sheva gagal beradaptasi, dan tak bisa menangkap unsur kimiawi serupa yang dipancarkan rekan-rekannya.
     Padahal, saat di AC Milan, Sheva tak terbantahkan adalah mesin gol yang mengerikan. Sayang, bakat besar itu tak menemukan tempatnya di Chelsea.
    Tapi, baiknya diingat juga bahwa yang menemukan bakat cemerlang Sheva di San Siro tak lain adalah Carlo Ancelotti. Carletto memang seperti punya indera keenam untuk mengolah pemain bertalenta jadi pemain besar.
    Dan kini, Carletto kedatangan penyerang fantastis, Fernando Torres.  Wajar saja jika kemudian orang-orang menunggu akan seperti apa jadinya 'El Nino' di tangan pelatih terbaik dunia 2003 versi World Soccer Magazine ini. (Tribunnews/den)

Torres Fact
Nama lengkap: Fernando José Torres Sanz
Tanggal lahir: 20 Maret 1984 (26 tahun)
Tempat lahir: Fuenlabrada, Spanyol
Tinggi: 1.85 m
Posisi: Striker
Informasi Klub
Klub sekarang: Chelsea
Nomor:    9
Karier Yunior
1995-2001    Atlético Madrid
Karier Seni
2001-2007    Atlético Madrid    214    (82)
2007-2011    Liverpool    102    (65)
Tim Nasional
2000    Spanyol U15    1    (0)
2001    Spanyol U16    9    (11)
2001    Spanyol U17    4    (1)
2001    Spanyol U18    1    (1)
2002    Spanyol U19    5    (6)
2002-2003    Spanyol U21    10    (3)
2003-    Spain    82    (26

Penghargaan Individual
Top skorer Nike Cup: 1999
Pemain terbaik Turnamen Algarve: 2001
Top skorer Turnamen Algarve: 2001
Pemain terbaik Piala Eropa u-16: 2001
Top skorer Piala Eropa u-16: 2001
Pemain terbaik Piala Eropa u-19: 2002
Top skorer terbaik Piala Eropa u-19: 2002
Top skorer Liverpool:  2007-08, 2009-10
Pemain terbaik Liverpool: 2007-08
FIFPro World XI (2): 2008, 2009
Player of the month Premier league: Februari 2008, September 2009


Kata mereka
Dwight Yorke, mantan pemain Man United
Punya Segalanya
DIA punya segala yang dibutuhkan. Torres memiliki kecepatan, kekuatan, dan bagus dalam duel di udara. Saya pikir Chelsea akan membawa Torres mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Hal yang belakangan ini jarang terlihat. (den)

Carlo Ancelotti, Pelatih Chelsea
Cepat Adaptasi
TORRES tidak punya masalah bermain dengan Drogba atau dengan striker lain. Ia cepat beradaptasi. Mungkin kami harus bermain dengan dua striker bersama-sama, tapi itu bukan masalah. Hal itu tidak akan banyak membuat perubahan.Mungkin dengan formasi berlian di lini tengah, bentuk formasi kami tidak akan berubah terlalu banyak. (den)

Frank Lampard, Gelandang Chelsea
Tangan Terbuka
SETIAP  pemain papan atas dan kelas dunia tentu akan kami sambut dengan tangan terbuka. Semua tentu sudah tahu kualitas Torres. Kami memang membutuhkan bantuan pemain terbaik untuk bisa meraih meraih banyak mimpi. (den)

Kaus Terlaris di Inggris
KEPERGIAN Fernando Torres dari Anfield disambut ratapan dan tetesan air mata para pendukungnya. Apa boleh buat, bomber Spanyol itu terlanjur jadi simbol pahlawan kubu Merseyside.
    Mendarat di Liverpool pada 2007, kecepatan, skill, dan naluri mencetak gol dari berbagai sudut membuat 'El Nino' langsung mendapat tempat di hati para Liverpudlian.
    Para pendukung The Kop kerap menyanyikan namanya di lapangan, memasang banner besar di stadion, dan dalam beberapa kasus ada pendukung yang sampai mengganti nama menjadi Torres --agar lebih identik dengan sang bomber.
    Ia menjelma jadi legenda hidup Liverpool, yang telah lama kehilangan ikon terbaiknya sejak era Ian Rush.
    "Fernando Torres adalah striker terkomplet di Liverpool yang pernah saya lihat," tulis seorang pengasuh blog Liverpool FC, Paul Tomkins.
    "Ia punya kecepatan dan penyelesaian seperti Ian Rush. Kelebihannya, ia bisa duel satu lawan satu, bahkan lawan dua pemain, punya skill lengkap untuk membantu gelandang. Ia pekerja keras, dan terlihat loyal pada klub. Ia sempurna," tulis Tomkins.
    "Fernando Torres, Liverpool number 9". Nyanyian itu kerap terdengar di Anfield. Selama dua tahun berturut-turut pula, kostum nomor 9 Torres tercatat paling laris penjualannya di daratan Inggris.
    Torehan golnya dahsyat. 81 gol dari 142 partai. Di musim pertamanya, ia jadi bomber pertama sejak Robbie Fowler yang menembus 30 gol dalam satu musim.
    Semua itu kini tinggal kenangan. The Blues telah membajak si anak emas ini. Yang tersisa adalah tangisan, dan juga kemarahan. Tak heran, sejumlah suporter The Kop melampiaskan kekesalan dengan membakar kaus Torres.
    Di pihak lain, kubu Chelsea sepertinya sadar betapa tinggi nilai 'El Nino'. Tengah pekan ini, atau kurang dari empat hari setelah transfer resmi, mereka sudah mulai menjual kaus Torres bernomor-punggung sembilan. Tidak hanya untuk kaus home, namun juga untuk kaus away berwarna hitam, serta kaus ketiga yang berwarna hijau. (Tribunnews/den)


Pacu Semangat Pemain Lain
KEDATANGAN Fernando Torres ke Stamford Bridge akan menimbulkan efek psikologis positif bagi keseluruhan tim. Keyakinan itu digaungkan mantan pemain pemain timnas Inggris, Martin Keown.
    Dalam kolom yang ditulis untuk Daily Mail, Keown menyebutkan, bagaimana pun Torres punya predikat yang membuat para pemain lain berseru "Wow!"
    Bagaimana pun, tulisnya, 'El Nino' punya reputasi mentereng : juara dunia, dan juga raja di Eropa bersama negaranya, Spanyol. Tak ada pemain lain di The Blues yang punya reputasi sehebat itu.
    Keown mengulas, fenomena kehadiran Torres akan sama seperti ketika Gilberto Silva datang ke Arsenal pada 2002 --dimana saat itu dirinya masih berkiprah.
    "Silva saat itu adalah pemain hebat. Saya ingat reaksi para pemain saat latihan. Mereka jadi tampil lebih bersemangat untuk menunjukkan kehebatan, tak mau kalah dengan pemain bintang baru, Mereka jadi lebih fokus, dan ingin tampil lebih baik," tulis Keown.
    Ia menegaskan, persaingan akan mengerucut di lini depan, yang diisi Didier Drogba, dan Nicolas Anelka. Drogba akan terpicu untuk menambah lagi perbendaharaan gol. Selama ini, ia seakan menjadi mesin gol yang tak bisa tergantikan siapa pun, dan itu bisa membuatnya terlena.   
    "Kondisi serupa akan terjadi pada Anelka. Saya pernah berlatih bersama dengannya. Jadi, saya tahu pasti bagaimana reaksinya. Ia akan merasa tertantang untuk mendemontrasikan penampilan terbaiknya," tulis Keown.
    Pria yang mengakhiri karier di Reading pada 2005 ini berharap, Carlo Ancelotti bisa memanfaatkan potensi tiga striker ganas yang mereka punya saat ini.
    "Akan sangat dahsyat, dan menarik kiranya jika tiga striker itu dipasang bersamaan. Torres, Drogba, dan Anelka. Ini akan sama dengan Manchester United dulu seperti masih diperkuat Carlos Tevez, Cristiano Ronaldo, dan Wayne Rooney," tulisnya. (Tribunnews/den)


Perpindahan yang Menyakitkan
MANTAN gelandang Liverpool, Luis Garcia meyakini, kegagalan Liverpool meraih trofi juara menjadi salah satu penyebab utama Fernando Torres hengkang dari Merseyside ke Chelsea. Namun, katanya, Torres pasti sangat berat hati untuk pindah ke Stamford Bridge
    Garcia bermain untuk Liverpool dari 2004 sampai 2007. Ia hengkang hanya sehari sebelum Torres bergabung The Reds dari Atletico Madrid. Keduanya jadi tandem kompak saat di Atletico, dan dikenal sebagai sahabat dekat, serta terus berkomunikasi hingga kini.
    "Saya tahu benar, Torrres meninggalkan Atletico karena klub itu gagal memberikan gelar juara di kompetisi apapun. Ia pun dengan berat hati akhirnya meninggalkan klub yang dicintainya," kata Garcia dikutip dari BBC Five Live.
    Ia mengatakan, Liverpool menjadi tujuan Torres karena memang El Nino sudah lama dikenal sebagai fan The Reds. "Torres pun percaya, Liverpool punya segala potensi untuk meraih banyak gelar juara," ujar Garcia.
    Di beberapa kesempatan, katanya, Torres sering bercerita betapa kuatnya tradisi sepakbola di Merseyside. "Ia mengaku kagum dengan para suporter di sana yang loyal, dan  dengan manajemen tim yang profesional. Ia merasa bahagia."
    Karenanya, Garcia mengaku sempat terkejut ketika akhirnya Torres pindah ke Chelsea.  "Saya yakin, perpindahan itu pasti sangat menyakitkan untuknya. Ia cinta Atletico tapi harus pergi ke Liverpool untuk mencari gelar juara. Kini, meski sangat mencintai Liverpool, ia  terpaksa pindah ke Chelsea untuk mendapatkan gelar juara yang diidam-idamkannya," kata gelandang yang kini membela klub Yunani, Panathinaikos tersebut.
    Torres sendiri mengakui, gelar champions adalah satu-satunya obsesi saat ini. "Ketika tim sekelas Chelsea, yang setiap musim berkesempatan meraih Piala Champions menawari Anda untuk bergabung, rasanya Anda bakal sulit untuk menolaknya," ujar Torres lugas. (Tribunnews/den)

Jejak Langkah El Nino
1984: 20 Maret lahir di Madrid
1995: Main pertandingan pertama di klub yunior Atletico Madrid
1999: Teken kontrak profesional pertama dengan Atletico
2001: Jadi pemain termuda Atletico yang bermain di di Ligane (liga remaja La Liga), dan jadi topskorer saat Spanyol juara Piala Eropa U-16
2002: Top skorer saat Spanyol juara Piala Eropa U-19
2003: Debut di tim senior Spanyo melawan Portugal
2004: Masuk tim Spanyol untuk Euro 2004.
2006: Cetak tiga gol di final Piala Dunia di Jerman
2007: 4 Juli tiba di Liverpool, dan dikontrak enam tahun dengan nilai transfer 20 juta pound
2007: 19 Agustus cetak gol pertama untuk The Reds saat imbang 1-1 dengan Chelsea di Anfield
2008: 3 Maret, Hattrick pertama saat menggulung West ham 4-0
2008: 30 April, tampil cemerlang di semifinal Champions melawan Chelsea, namun akhirnya kalah lewat ekstra time
2008: Mengakhiri musim dengan 33 gol dari 46 partai di segala kompetisi
2009: 14 Agustus diperpanjang kontrak sampai 2013
2009: 9 Desember cedera paha selama sebulan
2010: 21 Februari, jadi pemain pengganti melawan Manchester City setelah absen lama pasca-operasi lutut
2010: 13 Maret, mempertimbangkan masa depan di Liverpool jika klub gagal mendatangkan pemain bagus musim depan
2010: 11 April dipaksa ke dokter spesialis setelah cedera lututnya berlanjut
2010: 18 April harus istirahat sampai akhir musim lantaran cedera lutut parah. Rekornya tetap impresif dengan 22 gol dari 32 partai
2010: 11 Juli, mengangkat trofi Piala Dunia setelah Spanyol mengalahkan Belanda 1-0 di final. Namun, ia kerap jadi cadangan karena masih belum 100% sembuh dari cedera
2010: 3 Agustus, berkomitmen tetap bertahan di Liverpool
2011: 28 Januari, Liverpool menolak tawaran Chelsea. Belakangan The Kop mengaku juga menolak permintaan pindah dari Torres
2011: 31 Januari, Torres mendapat izin bicara dengan Chelsea setelah Liverpool sepakat dengan transfer 50 juta poundsterling (sekitar Rp 715 miliar)
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar