The Midfield Wonderboy
SEPINTAS tak ada yang istimewa pada diri anak muda berusia 18 tahun ini. Seperti remaja Anak Baru Gede (ABG) lain, ia sangat suka main Playstation, nongkrong di mall, dan menggosip soal perempuan. Ia pun masih serumah dengan orangtuanya di Hitchin, Hertfordshire. Yang membedakannya adalah, ia sudah masuk timnas Inggris.
Jack Wilshere, nama pemuda ini baru saja dipanggil Fabio Capello masuk tim The Three Lions. Gelandang serang muda Arsenal tersebut bakal bersanding dengan para pemain elite dunia asal Inggris seperti Steven Gerrard, Frank Lampard, dan Wayne Rooney.
Dalam keseharian, ia memang tak beda dengan para ABG lain. Hanya, dalam urusan sepakbola, ia adalah sebuah anomali. Wilshere bisa main jauh lebih hebat dari para remaja seusianya.
Banyak yang menyebut aksinya mirip Wayne Rooney, yang lain menyebutnya mirip Paul Gascoigne muda. Namun, lebih banyak yang menilai aksinya mirip Joe Cole. Lain lagi dengan Pelatih Arsenal, Arsene Wenger yang bahkan menyebut penampilannnya sangat mirip dengan Cesc Fabregas, dan bersiap menjadikannya sebagai 'The Next Fabregas' di Stadion Emirates.
Seperti juga ABG lainnya, Wilshere mengaku sangat bangga bisa bercakap-cakap dengan pelatih Inggris, Fabio Capello beberapa hari sebelum ulang-tahunnya ke-18 yang jatuh pada 1 Januari.
"Saya dipertemukan dengan (Fabio) Capello," ujarnya dalam sebuah wawancara dikutip dari 'Times Online', belum lama ini. "Saya dikenalkan oleh staf 'Ini Jack Wilshere'. Dan Capelo berkat 'Saya tahu, saya tahu'," ujarnya penuh bangga.
Wilshere pantas bangga karena kariernya memang baru seumur jagung, tapi sudah dikenal oleh pelatih sekaliber Capello. Bergabung dengan Arsenal senior sejak 2008, ia hanya dua kali tampil. Dan musim lalu ia menghabiskan waktu sebagai pemain pinjaman untuk Bolton Wanderes dengan rekor 14 bermain, dan satu gol.
Namun, ia memenuhi setiap jejak rekam untuk menjadi pemain bintang. Tangga untuk menuju pemain nasional ditekuni dengan sempurna. Ia bermain dua kali di Inggris U16, sembilan kali di Inggris U17, sekali di Inggris U19, dan lima kali untuk Inggris U21.
Saat Piala Emirates Agustus tahun lalu, ia tampil gemilang untuk Arsenal. Dan ketika itulah, Capello sempat berujar bahwa dirinya punya potensi untuk dipanggil masuk timnas. "Ia pantas masuk timnas, dan diproyeksikan untuk Euro 2012 nanti. Dua tahun lalu, usianya sudah 20 tahun, dan masuk dalam usia matang untuk atlet," ujar Capello ketika itu.
Wacana kian menguat sesuai dengan kebiasaan media di Inggris yang gemar membesar- besarkan topik menarik. Spekulasi beredar bahwa Wilshere bakal masuk tim untuk Piala Dunia 2010, dan dijadikan sebagai 'Theo Walcott' baru, yang pernah berlaga di Piala Dunia pada usia 17 tahun.
Ketika itu, Wilshere hanya tertawa mendengarnya. Faktanya memang, namanya kemudian tak masuk dalam list.
"Saya tak sebodoh itu. Saya tahu untuk dipanggil masuk timnas, syarat pertama adalah kamu harus jadi starter di klubmu. Karena itu, saya tak akan patah hati kalau tak dipanggil, karena memang saya masih minim pengalaman," katanya.
Capello terbukti kemudian memenuhi janjinya. Usai Piala Dunia dimana timnya harus menelan pil pahit dipermalukan Jerman di perempat-final, pelatih asal Italia ini langsung bebenah. 13 pemain lama didepak, 13 pemain baru dipanggil, termasuk satu di antaranya adalah Wilshere.
Pelatih Arsenal, Arsene Wenger langsung angkat suara begitu ada pemanggilan tersebut. Ia menilai, Wilshere memang sudah pantas masuk timnas. "Kenapa tidak? ia punya segala syarat untuk bersaing dengan pemain terbaik lainnya. Hanya saja, karena ia masih muda, memang diperlukan strategi khusus untuk membinanya," kata Wenger.
Dan Wilshere kini tak lagi tertawa, seperti ketika gosip mencuat dirinya akan masuk timnas pada tahun lalu. Pemuda rendah hati ini justru tertegun saat kabar gembira itu tiba. Ia sadar pintu untuk menjadi pemain bintang sudah terbuka. Tapi, ia pun tahu, di luar pintu sana beragam tantangan berat menantinya.
"Ini peristiwa terbesar dalam hidupku. Tapi, ini bukan akhir segalanya. Justru, inilah awal dari segalanya. Saya akan perlihatkan bahwa saya memang pantas masuk timnas," ujarnya bertekad. (Tribunnews/den)
---- Buat di Grafis
Wilshere Fact
Nama lengkap: Jack Andrew G. Wilshere
Tanggal lahir: 1 Januari 1992 (18 tahun)
Tempat lahir: Stevenage, Inggris
Tinggi: 170 m
Posisi: gelandang
Informasi klub
Klub sekarang: Arsenal
Nomor: 19
Karier Yunior
2001 Luton Town
2001-2008 Arsenal
Karier Senior
2008- Arsenal 2 (0)
2010 Bolton (Loan) 14 (1)
Tim Nasional
2006-2007 Inggris U16 2 (0)
2007-2009 Inggris U17 9 (0)
2009- Inggris U19 1 (0)
2009- Inggris U21 5 (0)
2010- Inggris 0 (0)
Rapor Wilshere *
Loyalitas 6,5
Kreatitivitas 7,0
Disiplin 5,0
Diving 5,0
Kontrol bola 6,5
Daya tahan 5,0
Passing 7,0
Shooting 6,5
Speed 6,0
Tackling 5,0
Visi 7,0
*) versi Goal.com
-----------------------------
Biasa Bermain dengan Senior
BAGAIMANA seorang wonderboy seperti Jack Wilshere bisa muncul? Patut diketahui, ia tak punya latar-belakang pesepakbola jalanan seperti halnya Wayne Rooney. Juga, ia tak dikaruniai talenta tubuh atletis seperti halnya Theo Walcott. Dan, ia pun tak punya gen darah biru sepakbola layaknya Ryan Giggs.
Cerita masa lalu Wilshere memang tak keren. Saat kecil, ia hanya sering bermain bola di belakang rumah bersama saudaranya, Tom, dan Ayahnya, Andi.
Tom, dan Andi adalah pemain level amatir yang cukup jago. Ibunya, Kerry senang olahraga saat SMA, sedang adik perempuannya, Rossi masuk klub atletik di sekolah. Tak ada yang istimewa, dan sangat mirip dengan keluarga biasa pada umumnya, bukan?
Jika pun ada langkah yang membuat takdir Wilshere jadi berbelok 180 derajat adalah keputusan sang ayah memasukkannya ke Sekolah Sepakbola Letchworth U-8, saat usianya enam tahun. Ketika itu, pelatihnya menyebut Wilshere punya kemampuan kontrol bola luar biasa. Bakat terpendam pun mulai menyembul ke permukaan.
Dan 'berlian' itu makin terasah berkat tempaan tepat, serta latihan efisien. Maka, saat usianya 16 tahun ia sudah masuk timnas Inggris U-16, dan pada usia 15 tahun sudah masuk Arsenal U-18.
Wilshere sendiri bingung saat ditanya kenapa dirinya bisa begitu brilian bermain bola di usia yang masih muda. "Padahal saat kecil saya juga main rugbi dan hoki, tapi tak ada yang lebih mudah dan mengasyikkan ketimbang bermain bola," ujarnya dikutip dari TimesOnline, belum lama ini.
"Saya pikir itu semua berjalan secara alamiah. Saya biasa bermain dengan orang lebih tua saat saya masih berusia tiga atau empat tahun. Kerena mereka secara fisik lebih besar, saya harus memakai trik-trik khusus untuk melawan mereka," katanya.
Diungkapkan, cara berlatihnya pun terbilang standar, sama seperti pemain lain. "Saya berlatih, sama seperti yang lain. Tapi, saya merasa tak tak ada yang sulit selama latihan. Juga ketika saya melihat ada pemain beraksi gemilang di televisi, saya langsung berpikir untuk mencobanya, dan ternyata saya bisa," ujarnya. (Tribunnews/den)
Berlatih Passing dan Passing
JACK Wilshere adalah pendukung fanatik West Ham, dan pengagum Paolo di Canio. Namun, klub pertamanya adalah Luton. Usia sembilan tahun, ia membela klubnya melawan Barnet dalam sebuah pertandingan. Ketika itulah, bakat ajaibnya diendus pemandu bakat dari Arsenal.
"Lucunya, wasit saat pertandingan itu ternyata adalah pemandu bakat dari Arsenal. Ia pun menawari aku untuk masuk Akademi Arsenal," kenang Wilshere.
Uniknya, ketika itu ia merasa sangat betah di Luton, dan tak berniat untuk pindah. Berkat dorongan sang ayah, akhirnya ia menyerahkan formulir hanya beberapa jam sebelum pendaftaran ditutup.
Ia pun melangkah masuk ke Gunners' Hale End Academy, ditukangi dua pelatih Steve Bould, dan Neil Banfield. "Saya berutang-budi pada keduanya. Mereka fokus pada dasar sepakbola yang benar," ujarnya.
Dasar sepakbola seperti apa yang dimaksud? Ini dia, kata Wilshere, para pemain dibawah usia 10 tahun terus menerus digenjot dengan latihan passing alias mengumpan.
"Tiap hari kami dilatih passing, dan passing. Dan harus selalu passing ke depan. Kami sparring partner dengan tim akademi Ajax yang punya konsep latihan serupa. Seru karena pola kami hampir mirip. Pelatih terus meneriaki kami untuk maju, demikian juga pelatih Ajax memberi perintah serupa pada timnya," ujar Wilshere mengenang.
Sedemikian dalam pola latihan passing dan passing itu di alam bawah sadarnya, hingga saat menguasai bola yang ada dalam pikirannya adalah harus mengumpan pada siapa lagi.
"Saat saya menerima bola, yang saya pikirkan adalah bisakah aku mengumpannya ke depan? Jika tidak, saya akan mendribble dulu bola untuk mendapat posisi yang bagus untuk mengumpan. Jika pun masih sulit, baru saya akan memberi umpan ke samping," katanya. (Tribunnews/den)
Kenangan bersama Henry
SEBUAH kenangan indah terpatri dalam diri Jack Whilshere saat usinya menginjak 15 tahun. Ketika itu, pada suatu pagi yang berkabut ia bersama tiga rekannya dari akademi Arsenal dipanggil untuk bergabung latihan dengan tim inti Arsenal.
Hati Whilshere pun langsung berbunga-bunga. Berlatih bersama para pemain idola adalah dambaannya. Dan masih ingat tangan hangat Thierry Henry, yang ketika itu masih jadi bintang The Gunners, saat menyalaminya. "Saat Henry menyalamiku aku merasa sedikit 'Whoa'. Gugup. Senang. Luar biasa," ujarnya dikutip dari TimesOnline.
Dalam sebuah game di latihan itu, sebagai gelandang serang ia dipasangkan dengan Ray Parlour, dan Freddie Ljungberg, serta Thierry Henry di depan. Dan ia mengaku serasa bermain di alam mimpi.
Tapi yang membuatnya lebih terkesan lagi adalah saat latihan menendang di akhir latihan. "Ketika itu Henry melepaskan shooting dahsyat beberapa kali membentur tiang gawang. Saya tak tahu apakah itu sengaja atau tidak. Tapi sepertinya ia memang sengaja melakukan itu. Ia memang pemain hebat," katanya.
Ia pun sempat berangan-angan bisa bermain bareng Henry di tim utama Arsenal. Sayang impiannya terputus karena striker Perancis itu keburu hengkang ke Barcelona.
Padahal, setahun kemudian, saat usianya 16 tahun 256 hari, Wilsherer untuk pertama- kalinya secara masuk dalam latihan resmi tim utama Arsenal. Dan ia menjadi pemain termuda Arsenal yang berlaga di Premier League, saat melawan Blackburn.
Itu sebuah momen istimewa. Ayah dan ibunya pulang cepat untuk menonton dirinya bertanding melalui pesawat televisi. Keluarga, dan tetangganya pun berkumpul di rumah mereka di Hitchin menonton si remaja ABG berlaga. Tak lama setelah itu, ia menjadi pemain Arsenal termuda yang bermain di liga Eropa saat melawan Dynamo Kiev (Tribunnews/den)
Sering Begadang Main Game
LEPAS dari dunia lapangan hijau, Ray Wilshere adalah seorang maniak game. Saat hari libur, mendadak ia menjadi 'nocturno' atau burung yang terus terjaga sampai dini hari, untuk bermain Playstasion secara online. Yang dimainkan biasanya adalah game FIFA Soccer, dan Call of Duty.
Ingin tahu lawan mainnya? Tak jauh-jauh ternyata, masih pemain muda Arsenal juga. "Theo Walcott selalu on, Aaron Ramsey juga. Mereka teman begadangku. Mereka boleh lebih jago di lapangan, tapi dalam game, akulah masternya," ujarnya.
Wilshere memang pribadi yang tahu diri, dan terus ingin belajar. Latihan baginya menjadi sesuatu yang menyenangkan karena ia bisa menyerap banyak pelajaran dari para senior.
"Saat latihan saya perhatikan gaya Andrey Arshavin yang punya teknik hebat. Juga Samir Nasri, pemain yang katanya punya gaya permainan mirip denganku. Saya juga banyak belajar dari Cesc Fabregas bagaimana cara mengendalikan diri, dan juga dari Theo Walcott," ungkapnya.
Tentang Walcott, Whilshere punya obsesi tersendiri. Ia ingin mengalahkannya dalam adu sprint satu hari. "Untuk urusan sprint, ia tak ada duanya. Tapi sebenarnya dalam urusan daya ledak saya lebih unggul. Ketika start aku biasa unggul lebih dulu sampai 10 meter, namun selanjutnya ia bisa berlari lebih cepat. Tapi, satu hari nanti aku berjanji mengalahkannya," ujarnya.
Posturnya yang hanya 170 meter kerap dianggap sebagai satu titik lemah. Namun, Wilshere justru melihatnya sebagai sebuah kelebihan.
"Pendek itu justru bisa menolong. Itu memberimu keuntungan lebih cepat dan lebih lincah bergerak karena tarikan gravitasinya lebih kuat. Banyak pemain Premier League yang tinggi, asal kita cerdik kita bisa mengalahkan mereka dalam duel satu lawan satu. Fisik bukan masalah buatku," ujarnya. (Tribunnews/den)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar