Kamis, 03 Maret 2011

Tahun Spesial
TAHUN ini sarat dengan peristiwa spesial bagi Sania Mirza. Petenis cantik ini mengalami salah satu episode terpenting dalam hidupnya setelah menikahi bintang kriket Pakistan, Shoaib Malik. Dengan status baru sebagai nyonya Shoaib, ulang-tahunnya ke-24 yang jatuh pada 16 November lalu pun terasa spesial.
    Istimewanya lagi, petenis kelahiran Hyderabad ini menikmati momen itu bersama orang-orang terdekat: para anggota tim tenis India yang sedang berlaga di ajang Asian Games, dan tentu saja bersama keluarga besarnya..
    "Ini menjadi tahun yang sangat spesial untukktu. Saya telah menemukan suami yang sempurna, punya keluarga sempurna. Ibuku (Nasima) juga ulang-tahun yang sama denganku. Shoaib juga di sini. Sangat mengasyikkan merayakan ulang-tahun bersama orang-orang terdekat," ujarnya.
    Perayaan ulang-tahun sederhana tapi khidmat itu digelar di Aoti Tennis Center, di Guangzhou, sebelum training sessiom, pada tengah pekan lalu. Sania meniup lilin, dan memotong kue yang lantas diserahkan pada sang suami yang lalu mengecup pipinya.
    Pesta itu digelar secara mendadak. Awalnya, Sania berencana merayakan diam-diam hanya bersama suaminya. Namun, saudara-saudara yang lain, serta rekan sesama atlet  juga ternyata merencanakan pesta untuknya. Ia pun akhirnya melarutkan diri dalam pesta bersama.
    "Padahal saya bukan tipe perempuan penyuka pesta. Saya tak suka keramaian. Saya lebih memilih menggelar makan malam yang hening hanya berdua dengan Shoaib," ujar peraih dua medali emas di Asian Games 2006 ini.
    Ibu Sania, Nasima yang juga hadir di Guangzhou, China, menyebut inilah salah satu perayaan ulang-tahun paling meriah bagi anaknya.
    "Ini seperti setting yang sempurna. Sania bisa berkumpul dengan rekannya sesama atlet, sekaligus juga dengan keluarga besar. Biasanya, Ia merayakan ulang-tahun di rumah." ujar ibu Sania.
    Menanggapi usianya yang semakin beranjak, Sania berharap dirinya bisa menjadi manusia yang lebih baik.
    "Semakin bertambah usiamu, semakin bertambah pula pengetahuan dan pengalamanmu. Kamu dituntut semakin bijaksana menyikapi hidup," katanya.
    Ia merefleksi lagi pengalaman tahun lalu yang menurutnya lebih banyak duka saat berkarier.  "Ada saatnya ketika kita tak pernah tahu apakah bisa bermain lagi atau tidak. Dan itu gara-gara cedera pergelangan tanganku ini. Lima bulan praktis saya tak berlatih, dan itu menjadi momen terburuk sepanjang karierku," ujarnya.
    "Itu saat-saat yang sangat rawan dengan depresi dan frustrasi. Tapi, terima-kasih Tuhan saya bisa melewatinya dengan baik. Dan berhasil meraih dua medali  di Commomenwealth games. Ini penebus kekecewaan yang sangat baik," katanya.
    India memang berharap banyak pada Sania, yang memenangi medali emas pada nomor ganda, dan ganda campuran di Asia Games empat tahun lalu. Ia pun meraih perak di nomor tunggal.
    Kendati demikian, sempat ada ketakutan juga merebak di tim India setelah Sania terkena flu dan demam. Hal itu juga yang menjadi berkah untuk tim putri Indonesia, yang menyikat India 3-0, meski di babak selanjutnya harus terhenti oleh Thailand.
    "Saya memang tak bisa main di nomor beregu karena sakit. Tapi saya siap berlaga di nomor tunggal. Tunggal putri Asia sedang booming saat ini. Banyak petenis tangguh dari Jepang dan China bermunculan. Dan ini pasti jadi pertarungan seru," katanya. (Tribunnews/den)



Sania Fact
Nama lengkap: Sania Mirza
Negara: India
Kediaman: Hyderabad, India
Tanggal lahir: 15 November 1986 (24 tahun)
Tempat lahir: Mumbai, India
Tinggi: 1.73 m
Berat: 57 kg
Turun di Pro: 2003
Gaya main: Tangan kanan (dua tangan backhand)
Tunggal
Rekor Karier: 219-113 (64.6%)
Rekor Juara: 1 WTA, 13 ITF
Rangking tertinggi: No. 27 (27 Agustus 2007)
Rangking sekarang: No. 111
Ganda
Rekor Karier: 153-82
Rekor Juara: 9 WTA, 4 ITF
Rangking Tertinggi: No. 18 (10 September 2007)
Rekor Medali
Asian Games
Emas     2006 Doha    Ganda Campuran
Perak    2006 Doha    Tunggal
Perak    2006 Doha    Tim
Commonwealth Games
Perak    2010 Delhi    Tunggal
Perunggu 2010 Delhi    Ganda putri

Serba-Favorit
- Film: Tom and Jerry, Tweety, Love Actually
- Aktor: Akshay Kumar, dan Brad Pitt
- Kota: New York    
- Aksesoris: Cincin hidung
- Busana: Calvin Klein
- Mobil: BMW7series dan Mercedes Benz
- Olahraga: tenis, dan kriket




Jadi Simbol Pemersatu
PERNIKAHAN Sania Mirza dengan bintang kriket Pakistan, Shoaib Malik sempat mengundang polemik panas. Maklum, kedua negara selama ini saling berseteru.
    Lepas dari polemik tersebut, Sania pun menjadi simbol pemersatu perbedaan. Ia dinilai berani merintis jalan perdamaian dari jurang perbedaan yang selama ini kerap menimbulkan konflik antardua negara yang semula bersatu itu.
    Tak pelak, ia pun kini kerap diundang untuk berceramah di berbagai acara sosial. Seperti baru-baru ini ketika ia diminta menjadi bintang tamu peluncuran film 'Punni Ki Kahaniyan' sebuah film produksi Action International South Asia.
    'Punni Ki Kahaniyan' adalah film yang mengampanyekan tentang harmoni perbedaan untuk anak-anak. Film itu diputar di berbagai sekolah di Hyderabad, Delhi, Patna, Bhopal, Jaipur, dan Patna, wilayah yang selama ini kerap bergejolak karena pertikaian antaretnis maupun antaragama.
    Di acara tersebut, Sania meminta generasi muda India untuk memegang teguh prinsip multikulturalisme.    
    Acara itu dihadiri sekitar 1500 anak-anak dari remaja dari 35 sekolah. Sania mengatakan India adalah negara besar yang terdiri dari berbagai suku bangsa hingga harus menghargai perbedaan.
    "Saya sudah bepergian ke berbagai pelosok negeri di dunia, dan bertemu dengan aneka manusia yang punya warna kulit berbeda, bertemu dengan berbagai agama berbeda. Dan bagiku itu sungguh dahsyat. Itulah berkah dari olahraga yang menyatukan segala perbedaan," ujarnya. (Tribunnews/den)


Menunggu Putusan Pengadilan
SANIA Mirza kini sedang menunggu panggilan dari pengadilan setempat. Tak tanggung-tanggung, ia dituntut seorang warga  Prakash Kumar Thakur terkait dengan pelecehan terhadap negara.
    Tuntutan pertama berkaitan dengan sikap Sania, yang dituding melecehkan negara setelah hanya duduk diam dengan santai --sedang hadirin yang lain pada berdiri-- saat diperdengarkan lagu kebangsaan pada sebuah acara nasioanal, dua tahun sialm.
    Tadinya, sidang kasus tersebut akan digelar pertengahan November ini. Namun, dengan alasan yang tak diketahui akhirnya dimundurkan menjadi empat Desember nanti.
    Selain Mirza, Menteri Pemuda dan Olahraga India Mani Shankar Aiyar juga diadukan untuk kasus yang sama. Thakur mendakwanya berdasarkan Pasal 2 Akta Pencegahan Penghinaan Kehormatan Nasional tahun 1971, ke pengadilan Chief Judicial Magistrate (CJM) India.
    Thakur melaporkan Mirza setelah sebuah surat kabar memberitakan bahwa petenis putri itu mengarahkan kakinya ke bendera nasional dalam sebuah upacara.
    Ia menyatakan tindakan petenis kelahiran 15 November 1986 tersebut melukai hatinya sehingga ia melaporkan kasusnya ke CJM.
    Selain itu Thakur juga melaporkan Aiyar karena jabatannya sebagai menteri olahraga meski tidak terkait langsung dengan peristiwa itu. (Tribunnews/den)

Dari Terapi Alternatif sampai Metode Militer
CEDERA pergelangan tangan kanan Sania Mirza memang membuatnya prestasinya anjlok. Maklum, cedera itu terjadi sejak 2009, sempat sembuh pertengahan 2009, namun kembali kambuh dan baru bisa pulih lagi pada pertengahan 2010 ini.
    Tak hanya cara medis, Sania pun menempuh berbagai cara pengobatan alternatif.
Menurut pengakuan Sania, selama ini memang dirinya mendapat perawatan khusus dari tim dokter. Tapi, lanjutnya, justru pengobatan yang jauh lebih terasa adalah kala ia mendapat perawatan dari pemain kriket, Yuvraj Singh.
    Sania menyebut, Yuvraj selama ini memberikan treatment khusus bagi pergelangan tangannya. Yuvraj memang berpengalaman dalam urusan pergelangan tangan, sesuatu yang memang paling dominan dilakukan Yuvraj di arena kriket.
    "Anda tentu bingung kala mendapati tangan Anda tidak bisa apa-apa, termasuk juga tak bisa mengangkat barang yang ringan seperti garpu misalnya.  Itulah yang dulu kualami, tapi berkat kesabaran Yuvraj, keajaiban akhirnya datang, dan kini aku sudah sehat kembali,"tutur Sania ketika itu.
    Treatment yang diberikan Yuvraj pun terbilang sederhana. Kala tidur, ia tak boleh menindih bagian lengan dengan tubuhnya, alias pantang untuk tidur telungkup. Setelah bangun, tangannya yang bermasalah  langsung dilenturkan dan ditarik ke atas. Sania pun tak dibolehkan mengangkat beban yang terlalu berat, harus gradual.
    Metode itu awalnya dinilai cukup berhasil, Sania pun bisa sempat berlaga di beberapa pertandingan. Namun, setelah itu cedera kembali menghampiri.
    Selain metode tradisional, ia pun pernah melakukan terapi berupa mengikuti pelatihan ala militer. Sayang, metode ini pun ternyata masih belum mempan untuk menyembuhkan cedera menahun yang menimpanya. (Tribunnews/den)


Bermula dari Anggukan sang Ibu
USIANYA baru lima tahun ketika orang-tuanya, Imran dan Naseema memberikan sebuah raket. Mereka pun mengajaknya nonton langsung pertandingan Conchita Martinez, dan Steffi Graf.
    Imran Mirza kemudian bertanya pada sang istri, apakah ingin melihat anaknya menjadi petenis putri. Naseema pun mengangguk, dan sejak itulah cikal bakal petenis putri terbaik Asia sudah dibentuk.
    Sania kecil mulai serius belajar tenis pada usia enam tahun dengan ditangani PA Jain, dan Ravi Chander. Partai internasional pertama dilakoni saat usianya 13 tahun ketika ia bermain di turnamen ITF Junior.
    Dalam waktu singkat ia langsung mencuri perhatian para pecinta tenis. Bermain tenis sepanjang waktu biasanya berisiko pada terbengkalainya pendidikan si anak. Tapi tidak bagi Sania.
    Ia lulus dengan gemilang dari sekolah menengah. Sedang ia pun meraih prestasi meyakinkan di lapangan tenis dengan menjuarai nomor ganda putri Wimbledon --grandslam pertama yang pernah direbut petenis India.
    Impian menjadi petenis kelas dunia pun tercapai. Namun, ada sebuah impian lain yang harus dikejar yakni menjadi seorang Doktor di dunia ilmu pendidikan. Jadi petenis, dan doktor memang cita-citanya sejak kecil.
    Keberuntungan datang ketika MGR University mendapuknya dengan gelar doktor kehormatan pada 2008. Impiannya pun tercapailah sudah. "Saat saya kecil, saya punya dua impian yakni jadi petenis, dan jadi doktor. Cita-cita pertama sudah tercapai, dan cita-cita kedua akhirnya tercapai juga. Terima-kasih untuk pihak universitas," ujarnya ketika itu. Ah, Sania, hidup sepertinya ramah sekali kepadamu. (Tribunnews/den)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar